Teknologi Terbaru | Teknologi Terbaru Move On - Teknologi Terbaru 2 | Technology News 2 | News Technology 2

Breaking

About Me

Rabu, 17 Juli 2019

Teknologi Terbaru | Teknologi Terbaru Move On

Film Eternal Sunshine of the Spotless Mind. FOTO/imdb.com.



Teknologi Terbaru - “Kau dapat menghapus seseorang dari pikiranmu. Tapi dari dalam hati, tersebut soal lain.” Sepenggal kalimat arif ini mesti dicerna Joel Barish (Jim Carey) melewati serangkaian empiris pahit. Meski dapat menghapus sosok Clementine (Kate Winslet) dari pikirannya, melewati jasa penghapus memori Lacuna Inc., ia menyadari bahwa Clementine bermukim secara lebih mendalam di lubuk hatinya. Eternal Sunshine of Spotless Mind (2004) diingat sebagai lebih dari sebatas film percintaan. Elemen fiksi-ilmiahnya terus diperbincangkan sebab menginginkan metode atau teknologi yang dapat membantu seseorang untuk dapat move on. Alih-alih berbaikan dengan masa kemudian yang pahit, cara atau teknologi tersebut akan menghilangkannya secara permanen dari bilik kenangan jangka panjang. 

Lingkar akademisi tidak memberi batas tujuan guna urusan romantis, namun untuk destinasi ilmiah yang lebih luas. Misalnya digunakan oleh pengidap gangguan stres pasca-trauma (PTSD) guna menghapus empiris tragisnya. Harapannya, pasti saja, supaya mereka dapat melanjutkan hidup dengan lebih tenang. Science Alert menulis pada masa kemudian ilmuwan beranggapan memori ditabung dalam satu bilik neurologis. Mereka lantas menyadari bahwa setiap memori tersimpan pada tidak sedikit titik di dalam otak. 

Memori terbentuk saat protein menstimulasi sel-sel benak untuk tumbuh dan menyusun koneksi-koneksi baru, jaringan-jaringan baru, yang akhirnya membina sirkuit benak manusia. Sejak saat tersebut memori tersimpan baik di bilik jangka pendek (short-term) maupun bilik jangka panjang (long-term). Memori jangka panjang mempunyai sifat tidak stabil. Ia ingin melunak ketika dikunjungi. Prosesnya mempunyai nama rekonsolidasi. 


Hal ini menjelaskan kenapa memori dapat berubah dari masa-masa ke waktu, cocok dengan respons emosional orang yang terkaitterhadap kenangan tersebut. Contoh, kenangan terluka berat dampak jatuh dari sepeda motor. Setiap kali dikenang dengan perasaan kesal, memori tersebut akan menghasilkan rasa fobia dan sedih. Jika dilangsungkan secara terus menerus, hasilnya ialah perasaan fobia saat menyaksikan atau bahkan memikirkan sepeda motor. 

Semakin kompleks benak satu spesies, semakin rumit proses rekonsolidasinya. Selama ini ilmuwan “bermain-main” dengan kenangan spesies non-manusia sebab mempunyai struktur benak yang jauh lebih sederhana. Tim peneliti dari University of California Los Angeles (UCLA) pernah menghapus kenangan menyakitkan dari siput laut. Temuan mereka publikasikan di Journal of Neuroscience edisi 27 April 2011. Tim peneliti mula-mula merealisasikan setrum enteng ke siput, kemudian dicubit di satu bagian. Prosedurnya dilaksanakan berkali-kali. Tujuannya supaya siput mengasosiasikan cubitan dengan rasa sakit dampak disetrum. Siput terbukti menilik rasa sakit sebab berkontraksi saat disentuh di unsur yang sama. Setelah kesebelasan menghambat kegiatan pada enzim kenangan jangka panjang yang dinamakan PKM Apl III, siput tidak bereaksi ketika dicubit. Ia tak sempat dengan asosiasi antara cubitan dan setruman. 

Mengutip periset senior kesebelasan David Glanzman dalam siaran pers, “memori jangka panjangnya hilang”. Keberhasilan tersebut memunculkan wacana penghapusan kenangan pada insan di masa depan. Pasalnya, masih mengutip Glanzman, “hampir seluruh proses bersangkutan kenangan pada siput punya hubungan dengan kegiatan memori di benak mamalia”. Nature Research edisi Oktober 2012 mengadukan keberhasilan semua peneliti Stanford University menghapus kenangan traumatis pada sejumlah ekor tikus. Pertama, mereka mengajar si tikus guna merasa takut. Caranya dengan menyemprotkan parfum jasmine, kemudian disetrum. Usai sejumlah kali pengulangan, tikus menikmati trauma terhadap parfum karena ia mengasosiasikannya dengan rasa sakit. 


Tim lantas membagi tikus ke dalam dua kelompok. Kelompok kesatu dipapar parfum ketika sedang istirahat tanpa dilanjutkan setruman. Responsnya ialah rasa takut sesudah bangun. Tikus-tikus ini bak pengidap Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) yang traumanya kambuh ketika terpapar objek yang diasosiasikan dengan empiris tragisnya. Kelompok tikus kedua diberi obat penghambat buatan protein di amigdala basolateral—area benak yang berhubungan penyimpangan kenangan traumatis—sebelum mereka tidur. Setelah dipapar parfum, mereka bangun tanpa mengindikasikan respons ketakutan sebagaimana yang terlihat pada tikus-tikus di kumpulan kesatu. Respons ini bertahan bahkan ketika mereka diangkut ke lingkungan baru. 

Percobaan Li-Huei Tsai dari Massachusetts Institute of Technology (Smithsonian Magazine, 2014) atau Kazumasa Tanaka dkk (dari laman kampus University of California, Davis, 2014) sama-sama melibatkan tikus. Perlakuan memanipulasi memorinya pun serupa.

Meski tersiar menjanjikan, menjajaki eksperimen yang sama pada benak manusia ialah pekerjaan ddengan kendala yang sama sekali berbeda. Kembali mengutip Science Alert, walaupun sebanyak ilmuwan pernah sukses mengikis takut dan trauma, penghilangan memori secara sepenuhnya dari bilik kenangan jangka panjang insan masih terkendala oleh dua hal. Pertama, tantangan teknis. Struktur insan jauh lebih perumahan ketimbang spesies lain. Pada konteks siput laut, misalnya, kendala ilmuwan melulu berkutat pada sambungan antara dua neuron. 

Meski ilmuwan sukses menciptakan protein PKM yang bisa menghambat kegiatan memori, mereka tetap harus membina teknologi yang dapat menargetkan memori secara spesifik. Jika gagal, resikonya ialah hilangnya seluruh kenangan jangka panjang si pasien, bukan yang traumatis saja. Kembali merujuk pada adegan film Eternal Sunshine of Spotless Mind, secara prinsip mungkin serupa dengan teknik kerja Lacuna Inc. Mula-mula pasien ditunjukkan objek pemicu kenangan traumatis. 


Di layar komputer hadir titik-titik yang menunjukkan tempat memori traumatis itu, yang tersebar di sebanyak wilayah benak pasien. Titik-titik tersebut kemudian dihilangkan sekitar pasien tidur. Ketika terbangun, pasien bak lupa memori tapi eksklusif untuk kenangan traumatisnya.

Kedua, tantangan etis. Dua tahun kemudian Rachel Riederer pernah menjabarkan soal mesin pengedit kenangan di kanal Vice. Ia meminta pendapat Julie Robillard, berpengalaman neurologi yang pernah mencatat tren manipulasi kenangan untuk jurnal yang dikelola American Medical Association. Robillard menegaskan bahwa teknologi manipulasi memori dan produk bioteknologi beda mesti dibangun, digunakan, serta dikontrol dalam lingkungan interdisipliner. 

Misalnya, semua ilmuwan dan berpengalaman etika mesti bekerja sama guna merumuskan aturan main dalam penerapan teknologi penghapus memori. Mereka pun mesti menciptakan rumusan yang jelas kenapa teknologi itu di anggap perlu guna ada. Robillard tidak menghindar bahwa teknologi penghapus kenangan mempunyai kegunaan positif. Selain mempermudah hidup penderita PTSD, teknologi ini dianggap akan menolong pemakai narkoba untuk terbit dari adiksinya, pun mendorong deretan patah hati guna secara instan move-on dari mantannya.

Tetapi, bersamaan dengan hadirnya teknologi itu, hadir pertanyaan-pertanyaan urgen yang mendesak untuk dibalas (agar dampak-dampak horor yang diperlihatkan serial Black Mirror tidak menjadi kenyataan). Misalnya, siapa otoritas yang berhak menjalankan proses penghapusan? Bagaimana teknik paling tepat guna menyeleksi jenis-jenis kenangan yang boleh dihapus dan yang tidak? Apakah teknologi dapat diakses oleh seluruh orang atau ujung-ujungnya mempunyai sifat elitis semata? 


“Bagaimana Anda dapat melaporkan kejadian kriminal atau menjadi saksi guna proses penyelidikannya andai memori atas kejadian tersebut telah terhapus? Apakah narapidana bakal dipaksa menjalani prosedurnya demi mengurangi bisa jadi mengulangi durjana yang sama sesudah ia bebas?,” tambah Robillard.

Sewindu yang kemudian Lane Wallace meneliti polemik ini di kanal Atlantic. Ia berkaca pada pengalamannya sendiri. Pada umur 20 tahun Wallace mengalami kemalangan mobil tunggal. Ia lantas dibawa ke lokasi tinggal sakit dalam situasi teramat kritis, namun untungnya dapat sembuh. Itu secara fisik. Secara mental Wallace menderita PTSD yang membuatnya kehilangan karier sampai teman dekat. Psikolog mengawasinya sekitar 24 jam sebab khawatir Wallace bakal melukai dirinya sendiri. 

Singkat cerita, kecelakaan tersebut menjelma sebagai empiris traumatis. Tapi, di sisi lain, kejadian tersebut menjadi momentum transformatif yang menciptakan Wallace tumbuh sebagai individu yang lebih waspada di segala situasi. Secara umum ia pun makin gampang berbahagia serta lebih mudah mensyukuri hidup. Wallace pasti tidak sedang menyamakan kondisinya dengan veteran perang, penyintas genosida, atau saksi kejadian horor lain. Poin utamanya: ia menjadi dirinya yang lebih budiman sekarang berkat kemalangan yang ia alami dulu. Menghapus memori pahit mungkin solusi yang instan, kata Wallace, namun di sisi beda ia belajar tidak sedikit darinya. 

Setiap kejadian, baik maupun buruk, pada kesudahannya punya kesempatan untuk menjadikan diri lebih baik ke depannya. Ia memblokir refleksi dengan menyerahkan kebebasan untuk para pembaca: memilih guna mengingat, atau melupakan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar