Teknologi Terbaru | Teknologi Terbaru Yang Akan Datang - Teknologi Terbaru 2 | Technology News 2 | News Technology 2

Breaking

About Me

Sabtu, 13 Juli 2019

Teknologi Terbaru | Teknologi Terbaru Yang Akan Datang

Indonesia Sehat 4.0: Kita Ada di Mana?


Budi Wiweko

Teknologi Terbaru - Guru Besar FKUI, Ketua Komisi 2 Senat Akademik UI,
Wakil Direktur Indonesian Medical Education Research Institute (IMERI)
FKUI - RS Dr Cipto MangunkusumoKEMAJUAN teknologi digital, big data, artificial intelligence (AI) dan genomik dalam dua dasawarsa terakhir telah membawa semangat serta arus evolusi dalam sekian banyak  bidang tergolong kesehatan. Konsep inovasi disrupsi, sebagai sebuah tahapan terobosan yang memimpin evolusi dalam masyarakat serta memengaruhi pasar secara dominan, paling terfasilitasi dan terakselerasi oleh Revolusi Industri 4.0.

Survei National Health Services (NHS) 2019 mengaku dengan tegas bahwa peradaban teknologi yang ketika ini menyerahkan kontribusi lebih dari 80% terhadap layanan maupun tenaga kesehatan ialah kemampuan dalam meneliti genomik, dibuntuti oleh pemakaian perangkat telepon pintar, teknologi pengenal suara, pemakaian AI dalam memprediksi, dan pemakaian perangkat diagnostik cerdas.

Masalah Kesehatan di Indonesia

Di Indonesia sekian banyak  permasalahan besar masih membayangi dunia kesehatan pada era Revolusi Industri 4.0. Data penelitian kesehatan 2018 mengindikasikan buruknya indikator sekian banyak  penyakit degeneratif laksana obesitas, hipertensi, penyakit ginjal kronik, dan kencing manis. Tidak tidak cukup dari 21,8% proporsi warga Indonesia merasakan obesitas, prevalensi kencing manis menjangkau 2%, serta jumlah penderita penyakit ginjal kronik yang menjangkau 3,8 per mil pada populasi di atas umur 15 tahun. 


Angka ini termasuk tinggi bila dikomparasikan prevalensi di negara tetangga atau juga negara maju di dunia. Tidak melulu itu, akibat kebiasaan mengisap rokok yang semakin meningkat pun mempunyai kontribusi negatif pada masyarakat. Ibu-ibu hamil merasakan anemia, yang menjadi variabel urgen penyebab kematian ibu.

Di sisi lain, penyakit infeksi tuberkulosis dan demam berdarah masih menjadi mimpi buruk menakutkan dengan case fatality rate yang lumayan tinggi. Kita adalahnegara peringkat kedua guna prevalensi tuberkulosis tertinggi di dunia—setelah India. 

Meningkatnya angka asa hidup serta berkah keberhasilan program family berencana akan membawa kita pada bonus demografi pada 2030. Namun, selama 15% populasi Indonesia atau selama 45 juta warga pada 2030 merupakan kumpulan usia lanjut, yang membutuhkan antisipasi yang baik dalam pengelolaannya.

Para pengambil kepandaian dan profesional tenaga kesehatan negeri ini butuh sensitif, untuk dapat mengadopsi dan beradaptasi dengan cepat sehingga dapat menghasilkan inovasi disrupsi dalam memecahkan sekian banyak  permasalahan besar di atas.

Big Data, Bioinformatika, dan AI sebagai Kunci

Potensi big data kesehatan yang adalahkombinasi data klinik dan genomik bisa dimanfaatkan sebagai daya ungkit guna menjelaskan hal risiko kesehatan pribadi secara kuantitatif dan biokimiawi.

Pada dasarnya sebuah penyakit noninfeksi bisa terjadi bila ada kombinasi dan interaksi antara hal genetik, kelaziman hidup, serta lingkungan. Perubahan coding asam basa DNA, proses metilasi-demetilasi, dan asetilasi-deasetilasi merupakan hal penyebab terjadinya over expression atau under expression suatu gen peletup penyakit degeneratif tertentu.

Dibutuhkan keilmuan bioinformatika dalam menerjemahkan data klinik dan genomik menjadi suatu algoritma dalam mengenali secara dini hal risiko penyakit, sampai-sampai memungkinkan anda untuk mengerjakan pencegahan primer serta menangani penyakit secara tepat.


Tentu anda tetap ingat bagaimana cerita Angeline Jolie yang rela mengerjakan operasi pelantikan kedua payudaranya setelah diperkirakan mempunyai mutasi gen BRCA-1 sebagai pembawa risiko kanker dengan akurasi sampai 85%. Semua ini bisa dimengerti sebab diterjemahkan dengan gampang oleh ilmu bio informatika.

Kompetensi bioinformatika adalahkombinasi antarilmu komputer, matematika, genetik dan ilmu sains dasar. Seorang berpengalaman bioinformatika memiliki keterampilan untuk menerjemahkan jutaan gigabyte pasang basa DNA menjadi algoritma yang berfungsi dalam deteksi dini maupun tata seperti penyakit tertentu.Modalitas ini diperkaya oleh deep learning dan machine learning yang dapat mengolah ribuan sampai jutaan data menjadi suatu AI dengan kelebihan dalam kecepatan dan ketajaman analisis data dalam layanan kesehatan.

Malaysia mengerjakan studi kohort yang masif dan terstruktur terhadap lebih dari 100.000 penduduknya guna mengidentifikasi hal risiko sekian banyak  penyakit degeneratif. Studi ini dipimpin oleh Universitas Kebangsaan Malaysia dan diberi judul “For the Future of Malaysia”.Melalui studi ini Malaysia bakal mendapatkan pola dan algoritma hal risiko penyakit degeneratif untuk penduduknya sampai-sampai mereka dapat mengerjakan intervensi dini guna menghasilkan generasi masa mendatang yang unggul serta menghemat pembiayaan kesehatan.

Singapura telah lebih dulu merealisasikan konsep big data dan precision medicine dalam program asuransi nasionalnya. Sebagai contoh, yakni pada pemberian obat antiepilepsi berbasis genetik yang menghindari inefektivitas fenitoin dampak resistensi. Pendekatan ini bisa menghemat melakukan pembelian barang kesehatan Singapura sampai jutaan dolar.

Amerika Serikat, melewati Harvard University, begitu getolnya mendidik masyarakat tentang pemahaman ilmu genetik dan bioinformatika pada awam, murid sekolah dasar, sekolah menengah, maupun mahasiswa. Berbagai modul pendidikan bioinformatika disiapkan oleh Harvard University demi mendidik masyarakat di sana supaya memahami bagaimana konsep pencegahan penyakit di masa datang.


“For the Future of Indonesia” 

Untuk mengakomodasi keterampilan deteksi dini penyakit degeneratif, saya dan anda butuh belajar dan memanfaatkan AI dalam program penapisan massal, bahkan semenjak periode bayi baru lahir. Dengan begitu, seluruh data klinik dan genomik warga Indonesia terdaftar dalam Kartu Indonesia Sehat.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia ketika ini berfokus pada Program Indonesia Sehat-Pendekatan Keluarga (PIS-PK) yang berorientasi pada siklus kehidupan. Konsep pencegahan primer paling erat berhubungan dengan upaya anda menyiapkan jabang bayi dalam kandungan ibunya.The first nine months shape the rest of your life, begitu David Barker memopulerkan hipotesis ini semenjak 2002. Bukan tidak mungkin, dengan inovasi disrupsi dan penerapan bioinformatika pada pendekatan program PIS-PK anda benar-benar dapat mencukur mata rantai penyakit degeneratif semenjak di hulu.


Kita mempunyai Indonesian Medical Education Research Institute (IMERI) Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan Eijkman Institute yang mempunyai sumber daya perlengkapan dan teknologi teranyar (next generation sequencing) maupun sumber daya insan yang siap untuk menyokong pengembangan program pencegahan primer berbasis genomik. Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan Indonesia (BPJS) pun belum lama ini telah mengenalkan potensi kekayaan datanya yang menjangkau jutaan populasi dan ribuan variabel.Hanya, sampai ketika ini belum tersiar adanya algoritma serta pola tertentu yang bermunculan dari big data ini, supaya dapat dimanfaatkan sebagai tahapan promotif dan preventif kesehatan Indonesia. Tentu ini merupakan tahapan maju yang dapat anda optimalkan pemanfaatannya.

Program Indonesia Sehat 4.0 ini membutuhkan investasi mula yang dipercayai akan dapat mengeliminasi defisit pembiayaan kesehatan BPJS di masa datang secara signifikan, dan sebagai bonusnya anda akan menemukan generasi emas guna menyongsong Indonesia 2045 sebagai di antara negara maju di dunia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar