Teknologi Terbaru | Teknologi Terbaru Aero Hydro Culture - Teknologi Terbaru 2 | Technology News 2 | News Technology 2

Breaking

About Me

Senin, 01 Juli 2019

Teknologi Terbaru | Teknologi Terbaru Aero Hydro Culture



Teknologi Terbaru - Untuk menambah hasil dari perkebunan kelapa sawit di lahan gambut dan pun menjaga ekosistem gambut, Pemerintah Kabupaten Siak berkolaborasi dengan Badan Restorasi Gambut (BRG) mengerjakan kajian hydrologi gambut dan pengembangan Teknologi Aero Hydro Culture hasil penemuan Prof. Ozaki dari Jepang.

Hal tersebut disebutkan Asisten II Setda Kabupaten Siak Hendrisan ketika membuka pekerjaan pelatihan Pembuatan Kompos di tempat riset Aerohydro culture di Kampung Koto Ringin, Kecamatan Mempura, Kamis pagi (13/06/2019).

Dalam urusan ini, BRG pun bekerja sama dengan Word Research International (WRI) Indonesia, LIPI, UNRI (UR), Balitbang, Pertanian Pusat, Badan Penelitian Kehutanan Kementerian Lingkungan Hidup & Kehutanan (LHK) serta melibatkan NGO (LSM) yang tergabung dalam Sedagho Siak laksana Winrock, WRI dan Elang.


Selanjutnya Hendrisan menuliskan bahwa Pemerintah Daerah menyambut baik dan sangat menyokong dengan adanya pekerjaan pengembangan teknologi teranyar ini.

“Jika ada tantangan dalam pengembangan teknologi ini, kami Pemerintah Daerah bakal memfasilitasi dan siap membantu”, jelas Hendrisan.

Hendrisan pun berpesan kepada kumpulan tani yang mengikuti pekerjaan ini, supaya mengikutinya dengan sebaik mungkin supaya teknologi ini benar-benar dapat diterapkan di lahan gambut di wilayah kita.

“Semoga dengan teknologi teranyar ini nantinya hasil perkebunan kelapa sawit masyarakat bakal meningkat, sampai-sampai akan menambah penghasilan mereka”, harap Asisten II tersebut.

Kemudian Prof. Anton dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Jakarta menyatakan bahwa Teknologi Aero Hydro Culture adalahteknologi yang bermanfaat untuk memancing akar tumbuhan untuk naik ke atas, sampai-sampai lebih mendapat makanan dari pupuk organik yang sudah disediakan.

“Teknologi Aero Hydro Culture tercipta dari pupuk organik yang diciptakan dari rumput, tanda sawit yang kosong (tangkos) dan gabungan kotoran hewan”, kata pria yang sering dipanggil Profesor itu.


Setelah seluruh bahan dicampurkan, selanjutnya bahan itu akan didiamkan atau di endapkan tidak cukup lebih dua bulan lantas baru dicampurkan dengan pupuk lain laksana pupuk mikorisa dan pupuk PGPR.

Kepala Dinas Pertanian Budiman Safari menambahkan, teknologi ini bakal coba dikembangkan terlebih dahulu di lahan Koperasi Beringin Jaya, Kampung Koto Ringin dengan luas tidak cukup lebih 400 hektare.

“Setelah teknologi ini sukses dikembangkan, saya bercita-cita koperasi Beringin Jaya menjadi developer usaha primadona untuk pelaku usaha sawit di wilayah lain”, kata budi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar