Teknologi Terbaru 2 | Teknologi Bioflok Ternyata Menguntungkan Budidaya Ikan Nila - Teknologi Terbaru 2 | Technology News 2 | News Technology 2

Breaking

About Me

Kamis, 16 Mei 2019

Teknologi Terbaru 2 | Teknologi Bioflok Ternyata Menguntungkan Budidaya Ikan Nila

Seorang pekerja sedang memberikan pakan pada ikan nila dalam budidaya keramba jaring apung di Danau Toba, Sumut. Foto : Jay Fajar/Mongabay Indonesia

Jakarta, Indonesia Teknologi terbaru budidaya ikan nilaPemerintah terus meningkatkan keawetan pangan dari sektor perikanan. Terkini, Pemerintah mengembangkan budidaya ikan nila dengan teknologi sistem bioflok. Teknologi itu telah berhasil diterapkan guna budidaya ikan lele yang dimassalkan di sekian banyak  pesantren di Indonesia.

Kepala Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi Supriyadi mengatakan, ikan nila dipilih guna sebagai komoditas lanjutan sistem bioflok, sebab nila termasuk kumpulan herbivora. Sehingga proses pembesarannya lebih cepat.

Di samping itu, ikan nila pun mampu memahami flok yang tersusun atas sekian banyak  mikroorganisme, yakni bakteri, algae, zooplankton, fitoplankton, dan bahan organik sebagai unsur sumber pakannya. Itu menguntungkan dalam budidaya di kolam.

Budidaya ikan nila sistem bioflok mempunyai sejumlah keunggulan, seperti menambah kelangsungan hidup (survival rate/SR) sampai lebih dari 90 persen dan tanpa peralihan air. Air bekas budidaya pun tidak berbau, sampai-sampai tidak mengganggu lingkungan selama dan bisa disinergikan dengan budidaya tanaman contohnya sayur-sayuran dan buah-buahan.


“Hal ini disebabkan adanya mikroorganisme yang dapat mengurai limbah budidaya menjadi pupuk yang menyuburkan tanaman,” ungkap Supriyadi pekan ini di Sukabumi, Jawa Barat.

Keunggulan lainnya ialah Feed Conversion Ratio (FCR) atau komparasi antara berat pakan dengan berat total (biomass) ikan dalam satu siklus periode budidaya menjangkau 1,03. Artinya 1,03 kg pakan menghasilkan 1 kilogram ikan Nila.

“(Itu lebih efisien) bila dikomparasikan dengan pemeliharaan di empang biasa FCR-nya menjangkau angka 1,5,” tuturnya.

Masih terdapat empat kelebihan lainnya, yakni padat tebar ikan menjangkau volume 100-150 ekor/m3 atau 10-15 kali lipat dibanding dengan pemeliharaan di empang biasa yang melulu 10 ekor/m3.

Sistem bioflok pun mampu menambah produktivitas sampai 25-30 kg/m3 atau 12-15 kali lipat bila dikomparasikan dengan di empang biasa yaitu sejumlah 2 kg/m3. Keempat, masa-masa pemeliharaan lebih singkat, dengan benih mula yang ditebar berukuran 8-10 cm, sekitar 3 bulan pemeliharaan.


“Benih tersebut dapat tumbuh sampai ukuran 250-300 gram per ekor, sementara untuk menjangkau ukuran yang sama di empang biasa memerlukan waktu 4-6 bulan,” tambahnya.

Terakhir, Supriyadi menuliskan, ikan nila sistem bioflok lebih gemuk sebab hasil pencernaan makanan yang optimal. Dan komposisi daging atau karkasnya lebih banyak, serta kandungan air dalam dagingnya lebih sedikit. Secara bisnis, budidaya ikan nila pun sangat menguntungkan sebab harganya lumayan baik dan stabil di pasaran yakni Rp22 ribu/kg.

Supriyadi mengingatkan, dalam pemeliharaan ikan Nila sistem bioflok, yang butuh dijaga ialah kandungan oksigen yang larut di dalam air. Hal itu, sebab oksigen disamping dibutuhkan ikan untuk perkembangan juga dibutuhkan oleh bakteri guna menguraikan kotoran atau saldo metabolisme di dalam air. Pada ikan nila, kadar oksigen terlarut (DO) di dalam media usahakan dijaga minimal 3 mg/L.

“Saya mengingatkan supaya teknologi bioflok di masyarakat dapat dikawal oleh UPT-UPT (unit penyelenggara teknis) dan semua penyuluh supaya tidak keliru menerapkannya, pun harus diterapkan secara benar cocok kaidah-kaidah teknik budidaya ikan yang baik laksana benihnya mesti unggul, pakannya mesti cocok standar SNI, parameter kualitas air laksana oksigen pun harus tercukupi,” pungkasnya.

Ramah Lingkungan

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Slamet Soebjakto mengatakan, pengembangan teknologi sistem bioflok guna ikan nila dilaksanakan melalui kerja sama dengan peneliti dari Institut Pertanian Bogor (IPB). Teknologi itu dipilih, karena dinyatakan sebagai teknologi yang ramah lingkungan.

Keberhasilan teknologi sistem bioflok guna ikan nila, mengindikasikan Pemerintah terus berinovasi menggali teknologi yang efektif dan efisien, dalam pemakaian air, lahan dan dapat beradaptasi terhadap evolusi iklim.

Walau sudah mengejar teknologi efisien untuk ikan nila, Slamet menyinggung Pemerintah tak bakal berhenti untuk mengerjakan inovasi. Terlebih, gejala perubahan iklim, penurunan kualitas lingkungan global, dan pertambahan warga terus menjadi tantangan bareng yang tidak dapat dihindari.

“Dalam upaya mewujudkan keawetan pangan sampai-sampai mau tidak inginkan harus diantisipasi, sebab secara langsung akan dominan  pada penurunan suplai bahan pangan untuk masyarakat,” tuturnya.

Oleh sebab itu, Slamet meminta seluruh pelaku perikanan budidaya terus mengedepankan pemakaikan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) dalam pengelolaan usaha budidaya ikan yang berkelanjutan.


Penerapan budidaya nila sistam bioflok ini didorong dikembangkan di daerah-daerah terpencil, perbatasan dan potensial, untuk membangun keawetan pangan. Pengembangan pun akan dilakukan di pesantren-pesantren dan kumpulan masyarakat lainnya.

“Teknologi bioflok ini bakal terus didorong supaya diterapkan terhadap sekian banyak  komoditas dan sekian banyak  daerah, sampai-sampai menjadi penyelesaian untuk memenuhi keperluan gizi masyarakat. Apalagi, ketika ini produk Nila di sejumlah daerah menjadi sumber gizi yang digemari, bahkan laksana di Papua dan Lombok pada umumnya,” jelanya.

Seiring dengan penertiban keramba jaring apung (KJA) di perairan umum laksana danau, waduk dan lainnya, dia optimis bahwa teknologi ini bisa menjadi solusi untuk pembudidaya ikan di sana yang tidak dapat lagi mengemban produksi. Dengan bioflok, semua pembudidaya diharapkan dapat pindah ke daratan dan mengerjakan budidaya ikan nila laksana di telaga atau waduk.

Untuk Pesantren

Untuk memasyarakatkan teknologi bioflok, Pemerintah Indonesia menjadikan pesantren di sekian banyak  daerah sebagai tempat pengembangan guna budidaya perikanan tersebut. Dengan teknik tersebut, ke depan diinginkan produksi ikan, terutama lele dapat meningkat secara nasional dan akan menolong suplai bahan pangan ikan nasional.

“Kita punya tanggung jawab moral untuk membina pesantren, tidak saja secara ekonomi saja, namun pun bagaimana turut serta dalam menambah kualitas SDM yang ada. Dengan mulai mengenalkan ikan sebagai sumber pangan untuk mereka, kita hendak generasi muda di lingkungan pondok pesantren lebih cerdas dengan mulai membudayakan mengkonsumsi ikan,” ungkap dia.

Untuk itu, KKP pada tahun ini menyalurkan pertolongan kepada 7 pesantren, 12 kumpulan pembudidaya dan 2 lembaga edukasi di 16 provinsi yang merangkum wilayah perbatasan RI laksana Belu (Nusa Tenggara Timur), Sarmi dan Wamena (Papua), Nunukan (Kalimantan Utara).

Khusus guna ikan lele di pesantren, Slamet memperkirakan bakal ada 78.500 santri yang terlibat, yang diinginkan menggerakan perekonomian di pondok pesantren dan yayasan.

Dukungan ini diinginkan mampu memproduksi ikan nila sejumlah 370,8 ton/siklus atau 1.452 ton, dengan keekonomian sebesar Rp21,78 miliar/tahun, dengan prediksi tenaga kerja menjangkau 1.030 orang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar