Teknologi Terbaru 2 | Kementan Dorong Sektor Pertanian Masuki Revolusi Industri 4.0 - Teknologi Terbaru 2 | Technology News 2 | News Technology 2

Breaking

About Me

Minggu, 12 Mei 2019

Teknologi Terbaru 2 | Kementan Dorong Sektor Pertanian Masuki Revolusi Industri 4.0

Foto: kementan
Foto: kementan

Jakarta, Indonesia - Kementerian Pertanian (Kementan) siap mendorong sektor pertanian menginjak revolusi industri 4.0 melewati berbagai software dan kebijakan. Berbagai software pun sekarang telah diperkenalkan untuk menolong usaha tani, khususnya demi memudahkan petani.

Sebagai contoh, software Sistem Monitoring Pertanaman Padi (Simotandi) yang memakai citra satelit beresolusi tinggi untuk dapat membaca standing crop tumbuhan padi. 

"Sektor pertanian sudah menginjak industri 4.0 yang ditandai babak baru, antara lain timbulnya Katam, Si Mantap, Smart Farming, Smart Green House, Autonomous Tractor, dan Smart Irrigation," ujar Staf Ahli Menteri Bidang Infrastruktur Pertanian Dedi Nursyamsi dalam penjelasan tertulis, Selasa (19/3/2019).

Menurutnya, software Kalender Tanam (Katam) bermanfaat untuk memahami waktu tanam, rekomendasi pupuk dan pemakaian varietas. 
"Rekomendasi tidak saja tingkat kabupaten, tetapi kecamatan hingga desa," ujar Dedi.

Aplikasi lain ialah aplikasi Si Mantap yang dimanfaatkan PT Jasindo dalam rangka mem-backup asuransi pertanian. Dedi menyatakan bahwa software ini menolong pihak asuransi agar mendeteksi risiko kekeringan dan banjir, bahkan organisme pengganggu tumbuhan.


"Aplikasi yang disiapkan Kementan pun memfasilitasi generasi muda agar terjun ke dunia pertanian," lanjut Dedi.

Hal ini dilaksanakan mengingat sektor pertanian Indonesia yang telah siap menginjak revolusi industri 4.0 dalam rangka modernisasi pertanian dan regenerasi petani. 

Berbagai kepandaian yang disiapkan ditunjukkan untuk menunjang efisiensi dan produktivitas pertanian sehingga menambah daya saing serta kesejahteraan petani.

Dedi pun menuturkan pertumbuhan teknologi paling luar biasa sebab telah menginjak era teknologi 4.0 yang dampaknya paling besar terhadap buatan barang dan jasa. Apalagi pemakaian internet dan teknologi informasi sudah menjadi unsur kehidupan insan sehari-hari. 

Dedi memberikan contoh luas lahan sawah di Jawa Barat lebih dari 1 juta ha. Dari areal tersebut terlihat luas lahan yang bakal panen dan tersebar di mana saja. Begitu pun tanaman padi yang baru tanam atau lahan yang belum ditanami (bera).

Sementara itu, Tenaga Ahli Menteri Pertanian RI Dr. Farid Bahar melafalkan kinerja Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman butuh diapresiasi sebab selalu membuat kepandaian pro petani. Saat terdapat wacana impor, menurutnya, Amran sering pasang badan agar produk impor tidak masuk Indonesia.


"Kasihan petani ketika panen tiba-tiba impor masuk. Akibatnya harga beli pertanian menjadi jatuh. Tapi yang terjadi, Kementerian Pertanian disalahkan sebenarnya kementerian beda yang menyimpulkan impor," jelas Farid. 

Untuk itu, Farid meminta peranan Kementerian Perekonomian lebih diperkuat guna menghindari perdebatan seperti impor pangan. Dengan begitu, tidak terjadi tudingan dan ketidaksinkronan antar kementerian bersangkutan.

Dalam peluang yang sama, Ekonom Universitas Indonesia Riyanto menuturkan bahwa implementasi teknologi 4.0 di sektor pertanian paling bermanfaat untuk konsumen dan petani guna mendekatkan distribusi.

"Dalam urusan ini, Kementerian Pertanian butuh memfasilitasi industri 4.0 lewat regulasi dan aturan. Alhasil, terdapat payung hukum untuk pelaku usaha dan generasi milenial," ujar Riyanto.

Riyanto pun menambahkan andai tidak masuk industri 4.0 bakal terjadi kelemahan pangan guna mendorong multiplier effect dari sektor hulu hingga hilir pertanian.

Hal tersebut ia ucapkan dalam Bincang Asyik Pertanian Indonesia (Bakpia) dengan kerja sama antara Forum Wartawan Pertanian (Forwatan) dan Kementan. Acara ini dilangsungkan di Sentul City, Jawa Barat, Senin (18/3), dengan mengusung tema "Mendorong Modernisasi dan Regenerasi Pertanian di Era Revolusi Industri. 


Acara tersebut pun turut dihadiri oleh penceramah lainnya, yakni Tenaga Ahli Menteri Pertanian RI Dr. Farid Bahar dan Ekonom Universitas Indonesia Dr. Riyanto. (mul/mpr)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar