Teknologi Terbaru 2 | Geliat Teknologi Digital di Bisnis Peternakan - Teknologi Terbaru 2 | Technology News 2 | News Technology 2

Breaking

About Me

Selasa, 14 Mei 2019

Teknologi Terbaru 2 | Geliat Teknologi Digital di Bisnis Peternakan

BKPM memperkirakan terdapat lebih dari Rp 30 triliun investasi bakal masuk lewat digitalisasi ekonomi.

Hasil gambar untuk Geliat Teknologi Digital di Bisnis Peternakan

Jakarta, Indonesia - Industri 4.0 yang mengangkat efektivitas dan efisiensi mulai menjalar sektor peternakan. Para wirausaha muda bersaing untuk mengamplikasikan teknologi ke bisnis peternakan sebagai salah penyelesaian mengatasi tantangan usaha. Tiga perusahaan rintisan bidang peternakan yang muncul dan menculik perhatian dengan inovasi teknologi itu ialah Ternaknesia, Karapan, dan SmarTernak. Chief Executive Officer Ternaknesia (CEO) Dalu Nuzlul Kirom mengaku inovasi yang ditimbulkan usahanya menjadi jawaban pertanyaan dan persoalan yang kerap hadir dalam bisnis peternakan. "Teknologi ialah kunci utamanya," kata Dalu di Jakarta, Selasa (16/10).

Ternaknesia ialah platform digital guna peternak dan investor peternakan yang menghubungkan akses permodalan, pemasaran, serta manajemen peternak. Dalu mengungkapkan bisnisnya berawal dari kemauan untuk jual fauna kurban pada ketika Idul Adha yang lantas berkembang lebih banyak menjadi suatu rantai suplai. Dalu menuturkan, Ternaknesia tadinya dimulai dengan skema peer-to-peer lending yang memungkinkan masyarakat luas menjadi investor peternakan. Sejak resmi berlangsung pada tahun lalu, dia menyatakan sudah lebih 600 orang investor sudah menyuntik pendanaan sebesar Rp 6,5 miliar untuk 10 peternak yang merangkum ribuan fauna ternak laksana sapi, kambing, serta kambing di Jawa Timur. 

Meski jumlah peternak masih relatif kecil, dia menyatakan sudah tidak sedikit peternak antre guna ikut serta dalam Ternaknesia. Seiring berjalannya waktu, Ternaknesia mulai berkembang ke arah sistem pemasaran. Tujuannya, supaya semua peternak dan investor dapat melakukan penjualan dengan cepat cocok permintaan dalam aplikasi. Di samping itu, pemakai Ternaknesia juga dapat menggakses sistem laporan online yang dapat bermanfaat sebagai laporan pertanggungjawaban pendanaan. "Peternak jadi lebih profesional karena bila laporannya manual masih tidak sedikit celah walau pengawasannya ketat," ujar Dalu.

Untuk menghasilkan kerja sama saling menguntungkan, Ternaknesia memakai skema untuk hasil dengan jangka masa-masa enam bulan sampai satu tahun. Investor dapat mendapatkan deviden yang bervariasi antara 12% sampai 20%. Sistem pertumbuhan terakhir yang tengah digarap tim nantinya pun akan memungkinkan perbankan dan nonperbankan ikut serta mengalirkan pendanaan untuk peternak. Tak melulu itu, Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan bisa jadi di antara sumber investasi dengan pendampingan Ternaknesia. Berdasarkan keterangan dari Dalu, dengan pelbagai layanan yangg dimiliki, dia beraharap bisnisnya dapat menjadi penyelesaian dalam menanggulangi permasalahan di sektor peternakan. 


Dia juga menargetkan dapat menjaring generasi muda sebagai pemakai Ternaknesia karena dirasakan lebih cepat menyerap gagasan dan mempunyai keterbukaan terhadap perubahan. Sehingga, bisnis ternak berbasis digital diharapkan dapat terus berekspansi mengikuti keperluan masyarakat. Inovasi di bidang peternakan juga diangkat SmarTernak. Co-Founder SmarTernak Andri Yadi menuliskan pihaknya memanfaatkan teknologi untuk menyimak pergerakan fauna ternak, khususnya sapi. Pengamatan perilaku fauna ternak pun dinilai dapat mempermudah peternak sebab fitur yang ditawarkan tidak saja data kegiatan sapi, tetapi pun kondisi kesehatan sapi laksana berat, suhu tubuh, temperatur, dan pengukuran lainnya berbasis Internet of Things (IoT).

Pada perangkat pemantau yang dikalungkan ke leher sapi pun dapat bermanfaat memberikan peringatan untuk pemakai andai ada pihak beda yang mengupayakan memanipulasi hewan. Selain memasarkan pelayanan, SmarTernak pun menyewakan fauna ternak dengan harga US$ 11 per sapi masing-masing bulan dengan minimum penyewaan 100 sapi dan jangka waktu paling tidak 2 tahun. Pembatasan paling tidak menurut perhitungan guna pendataan, tak melulu tentang bisnis. Alasannya, perhitungan 10 perangkat tidak akan mengindikasikan peningkatan produktivitas atau potensi kerugian bila dikomparasikan 100 sapi ternak. Andri menyatakan pendataan itu dapat digunakan untuk menyimak pola perilaku ke depan. 

Bahkan, SmarTernak mempunyai fitur notifikasi bila fauna ternak merasakan sakit, jatuh, atau mati. "Repot bila harus periksa satu per satu, sistem mempermudah peternak untuk mengerjakan tindak lanjut," katanya. Peralatan SmarTernak dirancang memakai batere dan tenaga surya. Dalam pemasaran produknya, Andri menyatakan telah berkolaborasi dengan Kementerian Pertanian dan sedang dalam proses penjajakan dengan PT Astra Agro Lestari Tbk. 


Sama dengan dua perusahaan sebelumnya, Karapan pun adalahperusahaan rintisan yang bergerak di bidang toko peternakan online. Karapan memanfaatkan data dan penelitian untuk jadi mesin jasa dengan rumus pemakaian sistem blockchain. Co-Founder Karapan Badrut Tamam Hikmawan mengaku penelitian ialah kunci dalam penambahan kinerja dan pemanfaatan peluang bisnis. Selain memasarkan produk ternak, laksana daging sapi, Karapan pun menawarkan layanan dengan pemanfaatan pakan guna memberi keuntungan untuk peternak. Seekor sapi misalnya, dapat menghasilkan minimal 20 kilogram pupuk kompos masing-masing hari dengan harga jual Rp 10 ribu sampai Rp 20 ribu per kilogram, walau perawatannya meningkat mahal jadi Rp 50 ribu per sapi. Alhasil, deviden yang dapat didapat peternak dari pemanfaatan pupuk kompos guna pakan dapat mencapai Rp 150 ribu hingga Rp 350 ribu per hari. 

Perusahaan menargetkan, program pupuk kompos dapat diikuti oleh peternak yang mempunyai usaha komoditas lain laksana jagung, udang, atau pisang. Hingga ketika ini Karapan sudah bermitra dengan 3.000 peternak di Jawa Timur. "Mereka dapat balik modal atau pupuknya dapat dipakai guna pakan ternak sendiri," ujar Badrut. Deputi Kerja Sama Penanaman Modal Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Wisnu Wijaya Soedibjo mengapresiasi upaya digitalisasi bidang peternakan yang dilaksanakan ketiga perusahaan. Wisnu bahkan menyinggung ketiganya sebagai pionir digitalisasi dalam sektor peternakan. Sebab, digitalisasi ekonomi dapat memberikan nilai tambah untuk sistem peternakan tradional.


BKPM memperkirakan terdapat lebih dari Rp 30 triliun investasi bakal masuk lewat digitalisasi ekonomi, khususnya yang mengarah pada perangkat software dan sumber daya manusia. Meski begitu, dia belum bisa merinci seberapa besar investasi yang terserap khusus guna sektor peternakan berbasis digital. Padahal menurutnya, agribisnis adalahinvestasi menarik untuk para pemain asing. Namun, pemerintah masih belum bakal memberlakukan aturan ketat untuk penanaman modal pada sektor digital. "Kita buka pintu selebar-lebarnya guna tahu siklus bisnisnya laksana apa sampai-sampai kita dapat beradaptasi," katanya. 

Pengamat Pertanian Universitas Padjadjaran Rochadi Tawaf mengaku industri 4.0 ialah wajah baru pada sektor peternakan Indonesia. Era digital pun mewajibkan peternak rakyat turut serta dalam pertumbuhan zaman andai tak mau terbelakang oleh perusahaan besar yang terus berinovasi dengan teknologi. Rochadi melafalkan ada 4 keharusan peternak rakyat guna bertahan di era bisnis digital. Pertama, infrastruktur informasi dan teknologi dalam format jaringan internet. Kedua, klasterisasi wilayah cocok spesialisasi dalam peternakan sapi laksana pembagian pembibitan, penggemukan, pemotongan, atau penghasil susu. Ketiga, pemakaian teknologi keuangan sebagai inovasi dalam akses permodalan. 

Terakhir, jejaring bisnis lewat sistem aplikasi. "Efisiensi dapat tercapai dalam transportasi, logistik, komunikasi, serta buatan lewat jejaring," ujar Rochadi. Dia menjelaskan, disrupsi teknologi bakal memaksa semua peternak rakyat di perdesaan guna beradaptasi. Namun, pemerintah mesti terus menyokong masyarakat agar mempunyai daya saing dengan penyediaan infrastruktur dan keperluan untuk mengarah ke digitalisasi. Salah satu program yang disorot ialah Desa Model Digital cocok Program Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar