Teknologi Terbaru 2 | AS Tuduh Produsen Drone Asal China 'Curi' Data Pengguna - Teknologi Terbaru 2 | Technology News 2 | News Technology 2

Breaking

About Me

Rabu, 22 Mei 2019

Teknologi Terbaru 2 | AS Tuduh Produsen Drone Asal China 'Curi' Data Pengguna

AS Tuduh Produsen Drone Asal China 'Curi' Data Pengguna

Jakarta, Indonesia -- Departemen Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat menerbitkan peringatan dengan mendakwa produsen drone asal China. Tuduhan tersebut melafalkan bahwa drone dapat menculik data pribadi maupun organisasi yang menggunakan jasa mereka.

Di samping itu, data itu dapat diakses pemerintah China.

Seperti yang dikabarkan, DHS Cybersecurity & Infrastructure Security Agency mengaku bahwa drone produksi China berisi komponen yang bisa membahayakan data informasi organisasi yang terdapat di Amerika.

Lebih lanjut, mereka menilai nyaris 80 persen drone yang dipakai di Amerika dan Kanada berasal dari DJI yang berkantor pusat di Shenzhen, China. Pasalnya, sebanyak organisasi penegakan hukum dan operator infrastruktur AS sendiri sudah bergantung pada drone produksi China tersebut dalam sejumlah tahun terakhir.

"Pemerintah Amerika Serikat mempunyai keprihatinan yang kuat berhubungan produk teknologi apapun yang membawa data Amerika ke dalam distrik negara otoriter, yang memungkinkan badan intelijennya mempunyai akses tanpa batas ke data tersebut dan menyalahgunakannya," kata Juru Bicara DHS.


Juru Bicara DJI Technology Co. Ltd., angkat bicara soal isu yang beredar berhubungan drone dinamakan dapat menculik data sebanyak organisasi yang menggunakan drone kepunyaan mereka. Reuters mengungkap ketenteraman teknologi drone DJI sudah mendapatkan verifikasi dari pemerintah AS.

"Keamanan teknologi kami sudah diverifikasi secara independen oleh pemerintah AS dan bisnis terkemuka AS," tutur jubir DJI.

Di samping itu, DJI menambahkan bahwa verifikasi tersebut memungkinkan pelanggan menemukan kontrol sarat dan menyeluruh bersangkutan bagaimana data mereka dikumpulkan, ditabung serta ditransmisi.

"Kami meluangkan drone yang tidak mentransfer data ke DJI atau melewati internet," pungkasnya.

Kekhawatiran baru ini hadir usai Departemen Perdagangan AS memasukkan perusahaan teknologi raksasa China yaitu Huawei Technologies Co Ltd dan 68 afiliasi ke dalam susunan hitam pasar ekspor. Hal itu dilaksanakan atas dasar risiko ketenteraman nasional AS yang dianggap akan terancam.


Kendati demikian, pemerintahan Trump ketika ini tengah 'melunak'. Saat ini mereka sudah membuka pulang kesempatan untuk Huawei untuk melakukan pembelian barang produksi Amerika guna mengawal jaringan yang terdapat dan meluangkan pembaruan empuk untuk handset Huawei.

Sekretaris Perdagangan AS Wilbur Ross menuliskan bahwa tahapan terbaru yang dilaksanakan pihaknya ini, guna menyerahkan kesempatan untuk sejumlah operator telekomunikasi yang 'masih' bergantung dengan perlengkapan Huawei supaya segera menciptakan opsi yang lain.

Namun di sisi lain, Pendiri Huawei Ren Zhengfei menilai tahapan penangguhan hukuman sedangkan yang dilaksanakan pemerintah AS tidak memunculkan efek berarti untuk perusahaan dan ia menilai Trump dan jajarannya sudah memandang 'remeh' Huawei. (din/age)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar